Rabu, 28 Mei 2008

Komentar Dan Pertanyaan Anda

Halaman ini disediakan khusus bagi anda yang ingin berkomentar tentang isi blog Didi Tarsidi: Counseling and Blindness, dan bagi anda yang ingin mengajukan pertanyaan yang terkait dengan isi blog ini.

Untuk berkomentar atau mengajukan pertanyaan, silakan klik COMMENT

Jika saya memandang bahwa komentar atau pertanyaan anda perlu direspon, respon saya dapat anda baca kemudian dengan mengklik link yang sama.
(Didi Tarsidi)

205 komentar:

1 – 200 dari 205   Lebih baru›   Terbaru»
canelong mengatakan...

Pak Didi, saya sedang menulis tesis tentang resiliency pada anak tunarungu di daerah perkotaan. Apakah Bapak bisa menerbitkan artikel yang terkait dengan itu? Terima kasih. Cannie

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

Dear Cannie, anda dapat menemukan beberapa artikel tentang tunarungu di www.permanarian16.blogspot.com. Saya adalah kontributor di blog itu. Semoga anda sukses!

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

Untuk Anne Ahzab. Anda perlu artikel-artikel tentang ketunarunguan? Silakan kunjungi http://www.permanarian16.blogspot.com   

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

Untuk Indri. Yang dimaksud dengan konseling rehabilitasi dalam artikel-artikel saya adalah konseling yang dimaksudkan untuk membantu pemberdayaan individu penyandang cacat. Silakan anda baca lagi: Konseling Rehabilitasi: "Definisi, Ruang Lingkup dan Landasan Filosofi"

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

Untuk Mbak Esti. Apakah anda yang sedang ambil master di Korea? Tentu saya akan sangat senang bila kita berkesempatan bertemu dan berdiskusi. Sukses!

Anonim mengatakan...

Ada beberapa yang ingin kami tanyakan kepada pak Didi, sebagai orang tua dengan anak tunarungu berusia 6 tahun Profound, memakai ABD hasil tes audiometrynya 50-60 db. Bersekolah di TKLB B dengan penggunaan bahasa verbal. Sekarang sudah bisa menulis dan membaca. Yang ingin saya tanyakan
1. Apakah dia bisa belajar di sekolah umum yang inklusi?
2. Jika ada SLB B yang tidak mau bekerja sama dengan sekolah inklusi dalam pembinaan anak abk, dan lebih terkesan ketakutan untuk kehilangan muridnya. apa yang harus kami lakukan?
3. Bagaimana jika kami ingin memasukkan ke sekolah inklusi dengan melihat perkembangannya. Jika dia mampu mengikuti pelajaran dia akan terus di sekolah inklusi tetapi jika dia tidak sanggup akan kami kembalikan ke SLB B tapi dari pihak sekolah SLB B tidak bisa. Apa yg harus kami lakukan?
Sebagai orang tua kami ingin anak kami juga mendapatkan pendidikan yang sama dengan anak normal.

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

Dear Ibu Roza,
Anak tunarungu pasti dapat bersekolah di sekolah inklusif dengan proper support. SLB seharusnya dapat menyediakan proper support itu.
Bagaimana kalau SLB-nya tidak mau? Ini persoalan advokasi untuk mengubah sikap masyarakat, termasuk komunitas SLB.
Saya sudah berkunjung ke blog Ibu dan blog itu menunjukkan bahwa ibu memiliki pengetahuan dan pemahaman yang sangat baik tentang ketunarunguan. Ibu dapat menawarkan diri sebagai volunteer untuk memberikan support dimaksud kalau Ibu punya cukup waktu untuk itu.
Kalau Ibu bermaksud memberi kesempatan kepada anak Ibu untuk mencoba pendidikan inklusif, dan kalau ternyata dia tidak memperoleh support yang dibutuhkannya dan kemudian Ibu memutuskan untuk mengembalikan anak ke SLB, seharusnya tidak ada alasan bagi SLB untuk menolak.
Sekedar untuk memperkaya pengetahuan Ibu tentang permasalahan anak tunarungu dan pendidikannya, Ibu dapat mengunjungi: http://www.permanarian16.blogspot.com.
Selamat berjuang terus! Kami ada di pihak Ibu dan anak Ibu. Semoga berhasil.

canelong mengatakan...

Saya sudah lihat blog permanarian13. Di situ ada beberapa artikel yang sangat membantu, tapi tidak ada tentang resiliency. Bapak bisa terbitkan artikel tentang itu?

lisa mengatakan...

saya mahasisiwi tingat 3. insyaallah tahun depan saya akan menyusun skripsi. rencananya saya akan mengadakan penelitian di SLB. karena basic kuliah yang saya ambil pendidikan umum/biasa, sekarang saya banyak mencari informasi mengenai anak2 tunarungu. bisakah bapak mengirimkan psikologi perkembangan anak tunarungu? apa saran bapak guna mempelancar penelitian saya ini?
terima kasih..^-^..

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

Untuk Ibu Hayatun di Banjarmasin. Untuk belajar Braille, silakan anda download: Modul Pembelajaran Braille
Sayang di situ masih ada satu atau dua kesalahan kecil, tapi akan segera saya perbaiki kalau sudah ada waktu. Selamat belajar.

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

Untuk Mbak Lisa. Artikel-artikel tentang tunarungu dapat anda lihat di: http://www.permanarian13.blogspot.com atau
http://rozarumaisho.wordpress.com/

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

Untuk Mas Arif Setiawan. Untuk penulisan skripsi anda, anda pasti memerlukan literatur tentang konseling rehabilitasi. Silakan kunjungi:
http://d-tarsidi.blogspot.com/search/label/Konseling%20Rehabilitasi

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

Dear guests. Saya sudah menambahkan dua artikel baru tentang pendidikan inklusif. Silakan cek:
http://d-tarsidi.blogspot.com/2008/06/pendidikan-inklusif-pendahuluan.html
http://d-tarsidi.blogspot.com/2008/06/pendidikan-inklusif-rangkuman.html

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

Dear guests.

Saya sudah menerbitkan "Landasan Pendidikan Inklusif", bagian dari buku
Pendidikan Inklusif Ketika Hanya Ada Sedikit Sumber


Terjemahan dari

Inclusive Education where there are Few Resources


Oleh Sue Stubbs


Alih Bahasa oleh Susi Septaviana R.


Edisi bahasa Indonesia diedit oleh Didi Tarsidi

Artikel tersebut dapat diakses di:

http://d-tarsidi.blogspot.com/2008/06/pendidikan-inklusif-landasan.html

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

Darimana asal Pendidikan Inklusif?

Pengaruh terhadap Perkembangan Pendidikan Inklusif
Kajian terhadap dokumen-dokumen internasional dapat memberikan cerminan teoritis tentang perkembangan pendidikan dan inklusi selama beberapa dasawarsa terakhir ini. Bab ini akan menelaah bagaimana pengalaman praktis dalam pendidikan mempunyai pengaruh besar pada perkembangan Pendidikan Inklusif. Pendidikan Inklusif pada dasarnya merupakan produk perpaduan antara dua pergerakan pendidikan yang kuat, yang masing-masing mempunyai pengaruh tersendiri.


Silakan baca selengkapnya di:
http://d-tarsidi.blogspot.com/2008/06/pendidikan-inklusif-sejarah.html

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

Apakah Sesungguhnya Pendidikan Inklusif Itu?


Dalam dua bab terdahulu ditunjukkan bagaimana pendidikan inklusif berkembang dalam berbagai kebijakan internasional dan juga dalam kaitannya dengan pengaruh
berbagai pergerakan. Meskipun dukungan terhadap pendidikan inklusif semakin meningkat, tetapi masih terdapat beberapa perbedaan pendapat, pemahaman dan
perspektif yang berbeda mengenai pendidikan inklusif. Namun demikian, banyak tentangan dan hambatan hilang apabila konsep-konsep pokok pendidikan inklusif
sudah dipahami sepenuhnya.

Silakan baca selanjutnya di:
http://d-tarsidi.blogspot.com/2008/06/pendidikan-inklusif-konsep-konsep-utama.html

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

Bagaimana Kita Dapat Merencanakan Pendidikan Inklusif?
Dalam merencanakan pendidikan inklusif, tidak cukup dengan memahami konsepnya saja. Sebuah rencana juga harus realistis dan tepat. Dalam bab ini akan disajikan
panduan untuk memastikan bahwa pendidikan inklusif dapat dipraktekkan dalam berbagai budaya dan konteks. Pengalaman pendidikan inklusif yang sukses menunjukkan
bahwa ada 3 faktor penentu utama yang perlu diperhatikan agar implementasi pendidikan inklusif bertahan lama:

Silakan baca selengkapnya di:
http://d-tarsidi.blogspot.com/2008/06/pendidikan-inklusif-perencanaan.html

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

Untuk Indra. Di blog ini ada banyak makalah. Silakan anda browsing lagi.

Untuk Murni. Untuk penelitian tentang pembelajaran bahasa Jerman bagi siswa tunanetra, silakan anda hubungi Ibu Ciciek Sri Suprijati. Beliau adalah guru SLB alumni jurusan bahasa Jerman UPI. Nomor kontaknya: 08122139300.

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

Untuk Pak Wahyu. Sekolah dengan setting pendidikan inklusif adalah sekolah yang berusaha memenuhi kebutuhan setiap siswanya termasuk siswa yang berkebutuhan khusus. Dengan demikian, sekolah inklusif adalah sekolah yang berkualitas. Namun patut kita akui bahwa hingga saat ini sekolah yang mengimplementasikan pendidikan inklusif yang sesungguhnya masih dalam proses menuju ke sana. Miskonsepsi masih terdapat di sana-sini, baik pada pihak pembuat kebijakan maupun pada pihak pelaksananya, sehingga sikap berbagai pihak juga terhadap PI sangat bervariasi, dan akibatnya pelaksanaannya pun sangat bervariasi pula. Tapi, kalau kita menginginkan sekolah dengan kualitas yang baik, sekolah dengan setting pendidikan inklusif adalah pilihannya. .

syaza mengatakan...

tanya dunk pa Didi, karakteristik orientasi mobilitas totally blind dengan low vision apa ya?mohon dijawab segera...

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

Untuk Syaza. Individu-individu tunanetra bervariasi dalam keterampilan orientasi dan mobilitasnya, tetapi Hallahan dan Kauffman mengemukakan bahwa tidak mudah untuk menentukan apa yang membuat satu individu tunanetra lebih baik keterampilannya daripada individu lainnya. Misalnya, akal sehat mungkin mengatakan bahwa mobilitas mereka yang masih memiliki sisa penglihatan akan lebih baik daripada yang buta total, tetapi kenyataannya tidak selalu demikian. Hallahan dan Kauffman mengemukakan bahwa motivasi untuk mau bergerak merupakan faktor terpenting yang menentukan kemampuan mobilitas individu tunanetra.

Silakan baca selengkapnya di:
http://d-tarsidi.blogspot.com/2007/12/dampak-ketunanetraan-terhadap.html

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

Special Needs Education and Inclusion in Indonesia: A Historical Perspective



During the Dutch colonization (1596-1942), the colonial government introduced the Western type of schooling. Special institutions were established to educate children with disabilities. The first institution for children with visual impairment was established in 1901, for children with developmental disability in 1927 and for children with hearing impairment in 1930, all in Bandung.



In 2002 the Project set up three pilot inclusive schools in each of the nine provinces with resource centres, and in 2003 the Education Authority of West Java ambitiously increased the number of inclusive schools to become three in each municipality in West Java. Since then over 2000 children with disabilities have been placed in regular schools.



To read the complete article, please visit:
http://d-tarsidi.blogspot.com/2008/06/special-needs-education-and-inclusion.html

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

Braille adalah sistem tulisan yang terdiri dari titik-titik timbul yang dimaksudkan untuk memungkinkan orang tunanetra membaca dengan merabanya menggunakan
ujung-ujung jari. Sistem tulisan ini diciptakan pada awal abad ke-19 oleh Louis Braille, seorang Perancis yang menjadi tunanetra pada usia tiga tahun.
Louis Braille hanya menggunakan enam titik “domino” sebagai kerangka sistem tulisannya itu – tiga titik ke bawah dan dua titik ke kanan. Untuk memudahkan
pendeskripsian, tiga titik di sebelah kiri diberi nomor 1, 2 dan 3 (dari atas ke bawah), dan tiga titik di sebelah kanan diberi nomor 4, 5 dan 6. Satu
atau beberapa dari enam titik itu divariasikan letaknya dalam kerangka domino itu sehingga dapat membentuk sekurang-kurangnya 63 macam kombinasi yang cukup
untuk menggambarkan abjad, angka, tanda-tanda baca, matematika, musik, dan lain-lain.


Jika anda berminat untuk belajar Braille, silakan download
Modul Pembelajaran Braille

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

Terdapat semakin banyak contoh tentang praktek pendidikan inklusif yang baik dari berbagai budaya dan konteks. Walaupun pendidikan inklusif bukan merupakan
cetak biru yang dapat dialihkan dari satu budaya ke budaya lainnya, tetapi terdapat banyak pelajaran yang dapat diambil terutama jika hambatan yang dihadapi
dan sumber-sumber yang tersedia sangat mirip. Seminar Agra menghimpun lebih dari 40 praktisi pendidikan inklusif yang bekerja di berbagai negara yang secara
ekonomi lebih miskin. Mereka mendapati bahwa mereka dapat belajar jauh lebih banyak dari sesama negara Selatan dibanding dari para ahli dan praktisi dari
Utara yang memiliki tingkat ketersediaan yang berbeda dan sistem yang berbeda pula. Dalam banyak hal, pengalaman mereka tidak hanya relevan dengan sesama
negara miskin, tetapi juga dapat memberikan pelajaran yang berharga bagi perkembangan pendidikan inklusif di Utara.


Silakan baca selengkapnya di:
http://d-tarsidi.blogspot.com/2008/06/pendidikan-inklusif-kesempatan-dan.html

windoyo mengatakan...

pak didi yth,
andai semua orang tua penyandang tunanetra seperti orang tua anda, saya yakin keterputurkan tunanetra tidak akan terjadi.

LEO mengatakan...

mas didi untuk buku "pendidikan inklusif ketika hanya ada sedikit sumber" itu sudah terbit belum. saya membutuhkan buku tersebut untuk referensi skripsi saya. makasih

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

Untuk Mas Leo. Akan segera diterbitkan; sedang menunggu revisi terbaru. Tetapi sementara itu, buku itu selengkapnya dalam format .pdf, dapat anda download.

Versi bahasa Indonesianya dapat di-download dari:
http://www.eenet.org.uk/theory_practice/IE%20few%20resources%20Bahasa.pdf
Versi bahasa Inggrisnya dapat di-download dari:
http://www.eenet.org.uk/theory_practice/ie_few_resources.pdf

LEO mengatakan...

mas mau tanya. saya sudah membaca sekilas tentang buku "Pendidikan inklusif ketika hanya ada sedikit sumber". disana saya banyak menemukan kata"SALAMANCA". yang ingin saya tanyakan adalah apa dan siapa salamanca itu????. tolong di jawab ya....!!! thanks

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

Salamanca adalah sebuah kota di Spanyol tempat diselenggarakannya konferensi dunia tentang pendidikan kebutuhan khusus. Konferensi itu menghasilkan Pernyataan Salamanca dan Kerangka Aksi Mengenai Pendidikan Kebutuhan Khusus. Ini adalah instrumen internasional pertama yang memuat landasan dan prinsip-prinsip pendidikan inklusif.

Silakan anda baca selengkapnya di: http://d-tarsidi.blogspot.com/2007/11/pernyataan-salamanca.html

pancaroba mengatakan...

Pak Didi,
saya dan seorang teman sedang mengerjakan skripsi mengenai pemahaman kognitif seorang tuna netra, berkaitan dengan tata ruang kota Yogyakarta. Hasil akhir yang direncanakan adalah peta timbul dari ruang-ruang interaksi rekan tuna netra di kota Yogya (dengan huruf Braille) dan video dokumentasi dalam proses penyusunan peta sederhana tersebut.
Berhubung ini skripsi, tentu saya tidak bisa hanya mengandalkan rekaman aktivitas di lapangan. Sehingga tambahan referensi berupa buku teks akan sangat membantu. Apakah Bapak berkenan merujukkan kami pada institusi yang menyediakan buku-buku tersebut? Terima Kasih sebelumnya, Pitra

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

Untuk Pitra. Membuat peta dengan braille bukan ide yang cukup bagus, kecuali jika anda punya akses ke braille embosser dengan fasilitas grafik. Sebaiiknya anda menggunakan thermoform atau swell paper.

Untuk bahan referensi, anda bisa browsing di amazon.com atau questia.com.
Sekedar untuk satu bahan rujukan, anda dapat membaca Dampak Ketunanetraan terhadap Fungsi Kognitif Anak
http://d-tarsidi.blogspot.com/2008/01/dampak-ketunanetraan-terhadap-fungsi.html

Anonim mengatakan...

bapak saya dede, sedang menulis skripsi tentang kompetensi interpersonal remaja panti asuhan, saya kesulitan dalam mencari teori kompetensi interpersonal dari buhrnmester, apakah bapak memiliki teori itu?dan artikel2 lain yang berkaitan dengan skripsi saya. terima kasih atas bantuannya.

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

Siaran Pers.

Diskriminasi Di Dunia Pendidikan.  

Pelanggaran hak asasi manusia mewarnai penerimaan mahasiswa baru tahun akademik 2008 ini. Wijaya, seorang tunanetra alumni SMA Negeri 66 Jakarta Selatan,
setelah lolos seleksi Ujian Masuk Bersama (UMB) Fakultas Tarbiyah jurusan Bahasa Indonesia Universitas Negeri Islam (UIN) Syarif Hidayatullah, saat daftar
ulang ditolak oleh pihak universitas, karena dia tunanetra. Uang yang telah dibayarkan sebesar Rp 1,850,000 dikembalikan kepada yang bersangkutan,  sementara
 semua berkas pendaftaran ulang yang telah diserahkan hingga kini tetap ada pada pihak perguruan tinggi.  

Sudah sejak tahun 80an, atau bahkan mungkin sebelumnya, universitas yang dahulu bernama Institut Agama Islam Negeri (IAIN) ini membuka diri pada hadirnya
tunanetra untuk belajar di sana di berbagai jurusan yang ada, termasuk Fakultas Tarbiyah. Dan, dari    kampus yang berlokasi di kawasan Ciputat ini, telah
lahir sejumlah sarjana tunanetra yang saat ini telah berkiprah di masyarakat pada bidang mereka masing-masing. Bahkan, tahun lalu, seorang tunanetra dari
Fakultas Dakwah lulus dengan predikat terbaik. 

Tapi entah mengapa, tiba-tiba perguruan tinggi yang semula ramah pada tunanetra itu mengubah pendiriannya. Wijaya, siswa tunanetra yang sejak di awal masa
studinya senantiasa mendapatkan layanan dampingan dari Yayasan Mitra Netra, setelah lolos ujian masuk bersama yang diselenggarakan pada pertengahan bulan
Juni lalu, ditolak dengan alas an karena dia tunanetra. Bersama Wijaya, Arif, yang juga satu SMA dengannya, saat ini sedang mempersiapkan diri belajar
di FISIP Universitas Indonesia, jurusan kesejahteraan social. Dari catatan Mitra Netra,  terdapat empat tunanetra lain yang saat ini sedang menempuh studi
di UIN, salah satu di antaranya Rafiq, juga belajar di Fakultas Tarbiyah jurusan Pendidikan Agama Islam. 

UIN, sebagai salah satu lembaga pendidikan tinggi yang juga berfungsi sebagai “agen perubahan”, telah menodai dirinya sendiri dengan perlakuan diskriminasi
kepada satu anak bangsa yang dengan sungguh-sungguh ingin mengembangkan dirinya. Apakah kekerasan dalam pendidikan semacam ini akan terus dibiarkan?
   

Jakarta, 17 Juli 2008


Aria Indrawati


Ketua III DPP Pertuni


Kabag Humas Yayasan Mitra Netra


Cel. 0815-11-478-478

Email:
aria@mitranetra.or.id         

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

Untuk Pak Bambang, Ibu Ritadiana dan ananda Arundya.

Semoga cita-cita Bapak sekeluarga untuk Arundya tercapai tanpa hambatan yang tak teratasi.

Untuk berbagi, saya ingin memperkenalkan Bapak sekeluarga pada Balqiz, anak perempuan yang kira-kira seumuran dengan Arundya. Orang tuanya, Ibu Primaningrum dan Bapak Rustam, juga sangat suportif. Silakan kunjungi:
http://allaboutbalqiz.blogspot.com/

tekadote mengatakan...

Pak didi, perkenalkan nama saya veisu. saat ini saya tengah mengerjakan tugas akhir yang berkaitan dengan penyesuaian diri penyandang tunanetra. saya tertarik dengan teori tahapan penyesuaian diri terhadap kehilangan penglihatan dalam blog bapak yang dikemukakan oleh James J. Messina (2005). boleh saya minta referensi bukunya pak? terima kasih pak.

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

Untuk Veisu. Buku James J. Messina dapat anda download dari: http://www.coping.org/Loss Issues.htm

Arie_HZ mengatakan...

saya tertarik dgn tulisan bapak mengenai model2 bimbingan karir, sebab sangat berkaitan dengan penelitian yang akan saya lakukan di bidang bimbingan karir. sayangnya, tidak dicantumkan sumbernya... kalo berkenan, saya ingin sharing dan minta pendapat dari pak Didi berkaitan dengan penelitian yang akan saya lakukan...trima kasih sebelumnya ya pak....

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

Untuk Arie. Silakan anda kunjungi lagi artikel tentang model-model bimbingan karir.

riris-hari mengatakan...

pak didi, mau tanya neh. aku dari jurusan ilmu komunikasi mau ambil skripsi tentang komunikasi terapeutik untuk penyandang cacat ganda (deaf blind). mau tanya, metode-metode apa aja yang biasa diterapkan pada anak-anak penyandang cacat ganda dalam berkomunikasi. apa hand ini hand (abjad jari) salah satunya? selain itu adakah metode lain? makasih banget ya pak...

-riris-

Yudhi Blog mengatakan...

Pak didi saya mahasiswa dari bina nusantara. saat ini sedang mengembangkan suatu alat pembaca file text untuk ditampilkan di braille display. 42 character.


1. braille display jensi apa yang digunakan di indonesia? unified kah? apa kah ada standar?


2. berapakah standar kata yg ditampilkan dalam satu braille.


rencannya alat yang dibuat ini akan membaca data teks dari MMC lalu ditampilkan. namun kami masih kurang jelas mengenai standar buku yang digunakan untuk menulis.

apakah kebutuhan yang diperlukan, seperti bookmark? bagiamana jika bacaannya banyak?
membedakan paragraf,baris, halaman.

sebelumnya saya ucapkan terima kasih.


nb: sya cari balas via email tidak ditemukan.
jika ada artikel baak dapat mengriimkannya ke yudhi001@gmail.com

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

Untuk Riris. Maaf lambat. Tentang mode komunikasi untuk anak MDVI, Pak Sigid Widodo adalah orang yang tepat untuk menjawabnya. Beliau adalah direktur sekolah untuk MDVI. Anda dapat mencoba menghubungi beliau lewat email: rawinala@indo.net.id

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

Untuk Yudhi. Dari redaksi pertanyaan anda, saya mergukan apakah kita bicara tentang konsep yang sam. Bagi saya, braille display adalah hardware yang menampilkan braille, jadi berfungsi sebagai monitor komputer. Yang saat ini beredar di Indonesia adalah alvadelphie 80 cell, yang dapat dioperasikan dengan driver JAWS.

Yudhi Blog mengatakan...

saat ini saya buat sebuah sistem minimum dengan "prosesor kecil (komputer kecil)"

untuk menampilkan sudah dapat. membaca juga sudah. namun masalah di interaksi. bagaimana sistem yg tepat.

butuh kah mereka gotoline.
apakah perlu bookmark.

braille display saya .
http://img355.imageshack.us/my.php?image=braillets2.jpg


saya buat alat tanpa komputer bisa ditampilkan. jadi lebih portable. mereka butuh membaca data digital tinggal jadikan txt. simpan mmc. masalah besarnya kertas braille tebal. bisa diatasi (harapannya )

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

Hallo Yudhi. Menarik sekali yang sedang anda kerjakan itu. Tampaknya anda mengarah pada pengembangan sebuah "braille notetaker", yaitu sejenis PDA yang dilengkapi dengan braille display dengan keyboard model Perkins. Silakan anda lihat beberapa produk jenis ini yang diberi merek seperti:
"Braille Sense", "Braille Lite", "Braille-n-Print", dll. Bisa dicari lewat Google.
Silakan anda baca juga artikel saaya yang berjudul Komputer dan Ketunanetraan di: http://d-tarsidi.blogspot.com/2007/07/komputerdanketunanetraan.html

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

Untuk Choirul Saleh. Please be specific tulisan yang mana yang anda maksud? Please also be aware bahwa jika ana menggunakan artikel dari blog ini sebagai referensi untuk karya tulis anda, anda wajib mencantumkan alamat blog ini.

Erwinsyah mengatakan...

Pak Didi,
Apakah mungkin lensa kontak masuk ke belakang mata? Saya dengar ada orang yg pernah mengalami itu, dan harus dioperasi utk mengeluarkan kontak lensanya. Terima kasih.

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

Untuk Irwansyah. Lensa kontak masuk ke belakang mata? Itu mengingatkan saya pada kasus tetangga saya yang harus dioperasi perutnya gara-gara gigi palsunya tertelan. Ini berarti bahwa kejadian semacam ini bisa saja terjadi, tetapi kita harus memandangnya sebagai kecelakaan.

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

Untuk Pak Suradi. Berikut ini adalah blog atau website orang tunanetra.

Kartunet (Karya Tunanetra): www.kartunet.com

Konetif (Komunitas Tunanetra Kreatif): www.konetif.org


bamperxii.blogspot.com(Pertuni Daerah Sulawesi Selatan): http://bamperxii.blogspot.com

trias'sblog mengatakan...

pak didi saya trias yang waktu itu ngobrol soal komputer bicara untuk judul skripsi saya. akhirnya judul hampir di acc besok. yang masih kurang adalah aplikasi apa yang digunakan untuk komputer bicara tersebut.
judul skripsi saya "Tanggapan siswa tunanetra mengenai komunikasi antar pribadi melalui komputer dengan aplikasi speech technology" apa betul aplikasi itu?
karena sebelumnya kaka angkatan ada yang membuat judul "Tanggapan siswa tunanetra mengenai komunikasi antar pribadi melalui handphone dengan aplikasi talking phone".
oia ada pesen dari papa insya allah papa mau pergi haji tahun ini, nanti mungkin ada sedikit syukuran.
terima kasih

sigid widodo mengatakan...

Pak Didi, saya rindu sekali bapak membuat tulisan ilmiah tentang tunanetra ganda (multi disable visual impairment). Saya orang lapangan, susah banget untuk nulis. Mungkin saya bisa berikan pengalaman lapangan kepada Bapak, dan bisa dikaji secara ilmiah, tks

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

Untuk Pak Sigit. Tawaran kerjasama yang sangat menarik. Saya akan sanat senang bisa menulis atas dasar realita empirik lapangan. Soalnya bagi saya hanya waktu. Kalau kita sama-sama tidak dikejar deadline yang mepet, saya dengan senang hati akan menerima tawaran Bapak. Ditunggu datanya.

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

Untuk Daniel. Postingan yang mengundang opini komunitas tunanetra atau pemerhati masalah-masalah tunanetra sebaiknya dialamatkan ke mitra-jaringan atau kartunetclub. Untuk menjadi anggota, silakan anda kirim email kosong (tanpa subject, tanpa pesan) ke: mitra-jaringan-subscribe@yahoogroups.com dan/atau kartunetclub-subscribe@yahoogroups.com

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

Untuk Raharja. Komputer dan Ketunanetraan: Bagaimana Orang Tunanetra Dapat Mengakses Komputer. Link: http://d-tarsidi.blogspot.com/2007/07/komputerdanketunanetraan.html

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

Untuk Daniel. Kaidah pemenggalan kata dalam tulisan Braille Indonesia mengikuti kaidah ejaan bahasa Indonesia (EYD).

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

Artikel ini baru diterbitkan:
Pertimbangan-pertimbangan tentang Kedewasaan dalam Konseling Rehabilitasi

http://d-tarsidi.blogspot.com/2008/10/pertimbangan-pertimbangan-tentang.html

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

Terjemahan buku Inclusive Education where there are a few Resources sudah di-upload secara lengkap. silakan kunjungi

http://d-tarsidi.blogspot.com/search/label/Inclusive%20Education%20-%20Sue%20Stubbs

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

Untuk Daniel dan semua yang bermina mempelajri Braille Font SimBrl.ttf yang terdapat dalam folder BMP_Braille awalnya dibuat untuk digunakan pada Windows 98. Oleh karena itu, jika digunakan pada versi Windows lebih baru, pada huruf-huruf tertentu, tampilannya tidak sesuai dengan yang dimaksudkan oleh pembuatnya. Misalnya, titik apostrof (titik 3) tampil seperti huruf a (titik 1). Oleh karena itu, jika ana menemukan diskrepansi seperti iu, saya sarankan anda untuk lebih percaya pada deskripsi titik-titiknya daripada tampilannya.

cep zaki mengatakan...

Dear,

Saya Zacky alumni PLB 2001, saat ini saya bekerja di salah satu NGO yang bergerak dalam bidang penyelenggaraan pendidikan inklusi, saat ini saya sedang mencari referensi mengenai MDVI (multiple Disabilities Visual impairment) dapatkah bapak membantu saya?
selain itu saya sedang mencoba untuk membuat blog mengenai perkembangan psikologis ABK pada fase remaja, dimana saya dapat mencari referensinya? terima ksih.

best and regards

zacky

Unknown mengatakan...

Pak Didi, performance Bapak sangat luar biasa dalam promosi doktor Jumat lalu. Saya salut. Bapak sangat menguasai disertasi dan ilmu konseling.
Metro TV meliput acara promosi doktor itu. Kapan disiatkannya?

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

Didi Tarsidi berkata...
Untuk Mas Umung (eh, atau Mbak?). Terima kasih banyak

Liputan promosi doktoral saya itu, yang dikemas dalam bentuk profil saya, akan disiarkan di Metro TV pada hari Minggu tanggal 30 Nopember, jam 5 sampai 6 pagi. Profil dilengkapi dengan gambaran tentang kegiatan saya sehari-hari, baik di rumah maupun di tempat

Anonim mengatakan...

maaf pak salah memasukkan pertanyaaan ke buku tamu..saya takut salah memaknai hal - hal sekitar inklusi karena kurang didapat di kelas PLB.
pak didi,
bagaimana sih caranya jika suatu SLB ingin berubah peran menjadi resource center?
apakah nantinya tidak ada yang bersekolah di SLB itu?
atau apakah sebuah resource center itu harus ditunjuk oleh pemerintah?
apa saja yang menjadi tugas sebuah Resource center?
dari mana nantinya sebuah resource center mendapat penghasilan?
maaf pak banyak...kalau terlalu panjang apa saya boleh datangi bapak saja di kampus itu juga kalau bapak tidak sibuk?

terima kasih yang teramat banyak untuk pak didi...

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

Buat Indri. Secara singkat, peran sebuah resource centre adalah untuk memberi dukungan bagi kelancaran kegiatan belajar anak berkebutuhan khusus di sekolah reguler. Itu dapat mencakup penyediaan guru pembimbing khusus, materi belajar yang aksesibel, alat bantu belajar khusus, pemberian advis kepada guru-guru reguler, dll. Sebuah resource centre dapat juga berperan ganda sebagai SLB, jadi tetap mempunyai siswa berkebutuhan khusus.
Siapakah yang berwenang mengubah peran SLB menjadi resource center? Keputusan terbaik adalah yang datang dari sekolah itu sendiri dengan persetujuan lembaga di atasnya. Bagi SLB negeri, harus mendapat persetujuan dari Dinas Pendidikan; sedangkan SLB suasta mendapat persetujuan dari yayasan yang menaunginya.

Anonim mengatakan...

terimakasih pak atas jawabannya...
saya masih ada pertanyaan. dengan adanya sekolah inklusi, apakah berarti tidak perlu ada lagi pendirian SLB baru? atau keduanya dapat berjalan bersama sebagai pilihan? karena dalam kepala saya tergambar, keduanya memiliki sistem yang sangat bertolak belakang..maksudnya antara segregasi dan integrasi...

terimakasih lagi pak didi... :)

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

Buat Indri. Inklusi dan segregasi memang berbeda tetapi tidak bertolak belakang. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan, tetapi inklusi diyakini memiliki lebih banyak kelebihan (jika diimplementasikan secara benar). Secara makro, kedua pendekatan ini saling melengkapi. Di kebanyakan negara (seperti juga di Indonesia) kedua pendekatan ini berjalan bersama-sama. Kita tidak perlu membubarkan SLB tetapi pendirian SLB baru seharusnya didasarkan atas pertimbangan yang sangat teliti. Di banyak negara, SLB berkembang menjadi resource centre bagi sekolah inklusif.

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

Untuk Bapak Aan Sudrajat di P4TK TK dan PLB) Bandung.

Untuk hasil penelitian tentang pengajaran matematika bagi tunanetra, anda dapat mengunjungi: http://www.rnib.org.uk/xpedio/groups/public/documents/visugate/public_teachsci.hcsp

Pada waktunya nanti, saya akan menulis artikel berdasarkan hasil penelitian tersebut.

sakhya@yahoo.com mengatakan...

pak didi,,
saya kurang mengerti dengan "kekuatan dan kelemahan personal konselor". bisakah anda memaparkan atau menjelaskan tentang "itu di atas"?
terimakasih sebelumnya..

kebenaran mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
anakkuCP mengatakan...

Pak didi. Bisa tolong jelaskan tentang cortical blindness ? Apa itu buta total atau hanya kabur. Tlg bantu saya. Thx

Unknown mengatakan...

Pak didi saya mau tahu tentang definisi ketajaman perabaan, tujuan serta spek dab langkah-langkah perabaan bagi tunanetra
Terimakasih

Nai Raisa mengatakan...

pak, saat ini sya sdang mncri data utk skripsi ttng Rehabilitasi Tuna Netra!
apakah bpk tau apakh bngunan yg cocok utk tmpt Rehabilitasi Tuna Netra tsb?
mhn jwbannya via email ya pak!

Anonim mengatakan...

rencananya, saya ingin melakukan penelitian mengenai sikap guru slb terhadap pendidikan inklusif. sekarang saya bingung apa variable bebas dan terikat dari judul tersebut ya pak? atau memang tidak ada variable..sebenarnya bagaimana pak tentang variable pada penelitian mengenai sikap ini?trimakasih

Abu Handar mengatakan...

Dear Pa' Didi,

Adik saya seorang penderita RP berusia 40 th, , yang tepaksa pensiun dini dari pekerjaannya sebagai akuntan publik. Dengan keterbatasan penglihatannya saat ini dia sedang merintis bisnis sendiri.
Kira2 alat bantu baca apa yang cocok untuk membantu dia dia agar bekerja secara independen dan dimana saya bisa mencarinya?

Terima kasih atas bantuannya

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

Dear Pak Abu Handar,

Saya duga adik anda termasuk penyandang low vision. Ada beberapa alat optik yang dapat membantu penyandang low vision membaca. Untuk informasi tentang itu, silakan anda kunjungi website Pertuni:

http://pertuni.idp-europe.org

dan masuk ke link Unit Low Vision.

Jika dia memerlukan software khusus untuk membaca layar komputer dengan suara (screen reader), atau dengan software pembesaran tampilan layar (screen magnification)silakan anda kunjungi

www.brailleadaptive.com

Please let me know if you need more help.

Fathi mengatakan...

Pak,saya sedang meneliti anak jalanan. Apakah anak jalanan itu termasuk kategori anak berkebutuhan khusus juga? apa bapak bisa merujukkan buku yang harus baca terkait dengan ini? terimakasih.

Fathi mengatakan...

Pak, apakah anak jalanan dapat dikategorikan anak berkebutuhan khusus atau anak luar biasa (exceptional children)? apa saja kategorinya, dan apa dasarnya anak jalanan termasuk kedalam kategori tersebut? Trimakasih atas jawabannya.

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

Dear Fathi,

Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang untuk dapat memenuhi kebutuhan dasarnya memerlukan layanan khusus.

Anak jalanan dapat dikategorikan sebagai anak berkebutuhan khusus tetapi tidak dapat dikategorikan sebagai anak luar biasa jika dia tidak menyandang ketunaan.

Anonim mengatakan...

Pak didi,

Saya mau bertanya apakah ada orang yang dapat membaca huruf braille dengan format (Unified Braille Code) UBC di jakarta.


Saya yudhi, kelompok kami sudah membuat sistem braille portable dan membutuhkan evaluasi.
apakah bapak bisa membantu? terima kasih.

Anonim mengatakan...

pak didi,
saya sedang butuh data ttg perkembangan anak-anak penyandang tunanetra dan gangguan yg umumnya dialami,khususnya di indonesia..
apakah bapak bisa menerbitkan artikel yang berhubungan atau kira-kira bisa memberikan referensi site untuk dikunjungi..
trimakasih pak didi..

Adnyani mengatakan...

pak didi, saya ingin bertanya. apa saja kesulitan bapak dalam menjalankan peran ayah? bagaimana bapak mengatasi kesulitan itu??

menurut saya bapak adalah ayah yg hebat, bapak berhasil mendidik anak bapak dan mereka semua berhasil di bidangnya.

trimakasih sebelumnya.

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

untuk Menko.
Di blog ini ada cukup banyak artikel yang menyangkut perkembangan anak tunanetra; misalnya:



• Dampak Ketunanetraan terhadap Fungsi Kognitif Anak
• Dampak Ketunanetraan terhadap Perkembangan Bahasa Anak
• Dampak Ketunanetraan terhadap Keterampilan Mobilitas Anak

Silakan masuk ke halaman daftar isi dan browse.

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

Untuk yudhingeblog.
Siapa pun yang sudah menguasai grade-2 Braille akan dapat membaca UBC tanpa banyak

kesulitan. Hanya ada beberapa tanda saja yang mungkin benar-benar baru, sebagian besar tanda

remain the same. Yang saya tahu betul menguasai grade-2 Braille itu di Jakarta adalah Pak

Suratim, Pak Bambang Basuki, dan Mbak Aria.

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

Untuk bernyanie.
Saya tidak pernah mengenang masa-masa mengasuh anak sebagai masa-masa sulit. Sebaliknya,

saya mengenang masa-masa itu sebagai saat-saat yang membahagiakan.
Keberhasilan pendidikan anak-anak kami merupakan buah kerjasama dari istri, saya, anak itu

sendiri, dan beberapa orang lain yang signifikan. Kerjasama itu dibangun atas perpaduan

antara kasih sayang, saling mengerti, saling percaya, konsistensi, dan komitmen.

Anonim mengatakan...

Pak didi,

Terima Kasih atas balasanya.

Apakah mba Aria ini adalah yang berada di mitra netra? waktu itu kami ke mitra netra 14 januari 2008, ternyata mba aria belum mengenal format ubc 8 titik ini.

Boleh saya minta nomor yg bisa di hubungi untuk bapak Pak Suratim, Pak Bambang Basuki.

kalau bisa dikirim ke email saja pak di n4dar3@yahoo.com.


Terima kasih.

arkanarose mengatakan...

bapak didi

saya zaki dari jogja
saya kesulitan dalam mencari teori tentang kompetensi interpersonal
apakah bapak mempunyai referensi buku2 ato website yg berhubungan dengan teori tersebut??

terimakasih

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

Untuk zaki dari jogja.
Silakan anda baca artikel-artikel di bawah heading Social Competency (lihat daftar isi).

anna sutaman mengatakan...

salam pak didi....
senang banget bisa bergabung dalam blog pak didi, sekaligus bisa ngobrol ma pak didi...
begini pak..saya mahasiswa psikologi, rencana mau ambil skripsi dengan judul pengaruh pendidikan seksual terhadap perilkau seksual tunantera.. tapi saya masih kekurangan referensi mengenai perkembangan seksual tunanetra...
m,ungkin bapak bisa membantu... bagaimana perkembangan seksual tunanetra, apakah sama dengan perkembangan seksual remaja dengan penglihatan normal...

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

Untuk anna sutaman.
Beberapa penelitian tentang perkembangan sexual anak tunanetra mengindikasikan bahwa perkembangan sexual anak-anak ini sedikit berbeda atau agak lebih lambat daripada anak pada umumnya, tetapi tidak ada indikasi bahwa perbedaan atau keterlambatan perkembangan tersebut berlanjut hingga tahap perkembangan selanjutnya.
Jika anda ingin meneliti bagaimana pengaruh pendidikan seksual terhadap perilaku seksual tunanetra, yang menjadi permasalahan sebenarnya bukanlah hakikat perkembangan sexual anak tunanetra itu, melainkan bagaimana cara pendidikan sexual itu dilaksanakan. Dengan demikian, permasalahannya lebih pada metodologi pembelajaran daripada faktor psikologi.

kata mengatakan...

Pak didi saya seorang mahasiswa arsitektur yang sedang menyelesaikan skripsi mengenai prinsip desain aksesibilitas bagi tunanetra. Saya kesulitan mendapatkan literatur yang khusus membahas mengenai aksesibilitas untuk tunanetra. Bisakah bapak memberikan petunjuk literatur yang bisa saya dapatkan baik buku, blog, jurnal, ataupun artikel.
Terimakasih

salam
-devi-

kata mengatakan...

saya mahasiswa arsitektur yang sedang mengerjakan skripsi dengan tema desain aksesibilitas bagi tunanetra. Saya mengalami kesulitan dalam mendapatkan literatur.
Bisakah bapak menunjukkan literatur baik buku, website, blog, jurnal ataupun artikel.

terimakasih
-devi-

anna sutaman mengatakan...

salam...
terimakasih pak didi atas jawabannya,
begini, masalah metodologi dalam pendidikan seksual, yang nanti akan saya gunakan adalah metodologi sebagaimana yang telah digunakan pada remaja normal, modul yang sama dan mungkin ada sedikit ada variasi dalam penyampaian materi pelatihan tersebut, dan kemudian akan diukur seberapa efektif pelatihan pendidikan seksual tersebur kepada remaja tunanetra. contohnya adalah dengan metode ceramah, karena mungkin yang paling efektif bagi tunanetra adalah metode tersebut, atau nanti akan diberikan study kasus atau semacamnya.
hambatan utama dalam penelitian ini adalah minimnya informasi, buku referensi dan hasil penelitian yang mengambil masalah perkembangan seksual tunanetra..
padahal itu penting sekali, mengingat adanya perbedaan antara perkembangan seksual remaja normal dan remaja tunantra.
mungkin pak didi bisa berbagi sedikit pengalaman,, terima kasih banyak.
alangkan senangnya jika saya bisa bertemu langsung dan berdiskusi bersama bapak.
salam.

Unknown mengatakan...

hay... RMB apa tu... fungsine bwt profesi ortotik prostetik apa ya.....

me.. ling mengatakan...

bapak, saya ingin tahu materi bahasa inggris apakah yang cocok bagi tuna netra di panti tuna netra yang siswanya diarahkan menjadi tukang pijat?

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

Buat me.. ling. Materi pelajaran bahasa Inggris untuk calon juru pijat. Pemilihan kosa kata lebih ditekankan pada kata-kata yang terkait dengan massage. Aspek kemampuan berbicara lebih ditekankan daripada kemampuan menulis bila juru pijat itu diharapkan akan berkomunikasi dengan customer asing.

MEDIA pembelajaran MTK1 mengatakan...

Slamat siang mas Didi,

saya tertarik dengan pendidikan inklusi. untuk itu, sesuai dengan bidang yang saya geluti, matematika, maka saya berniat melakukan penelitian tentang "model pembelajaran matematika pada anak tunarungu" Apakah sudah pernah ada yang meneliti ? mohon informasi dan dukungannya. Terimakasih banyak

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

Buat MEDIA pembelajaran MTK1. Saya yakin sudah ada yang meneliti tentang model pembelajaran matematika bagi anak tunarungu tapi saya tidak punya info yang spesifik tentang itu. Kalau anda tinggal di Bandung, anda bisa lihat-lihat di perpus UPI.

Untuk beberapa info tentang ketunarunguan, anda bisa kunjungi:

www.permanarian16.blogspot.com atau

www.jasianakku.blogspot.com

eka mengatakan...

Pak Didi, saya sedang mencari literatur mengenai proses kognitif pada tuna netra untuk pengerjaan skripsi saya. bisakan Anda memberikan informasi dimana saya bisa mendapatkan literatur tersebut baik berupa buku ataupun jurna?

terima kasih

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

Buat Eka. Di blog ini ada beberapa artikel tentang atau yang terkait dengan fungsi kognitif anak tunanetra. Silakan anda browse lagi dan klik link Daftar Isi.

opik mengatakan...

Pa Didi saya Taufik mahasiswa sejarah, saya memiliki rencana menulis skripsi tentang pendidikan luar biasa masa Hindia Belanda sekitar tahun 1907-1942. Kira-kira sumber -sumber apa saja yang dapat saya gunakan ?
Apakah Bapak memiliki daftar bibliografi sumber yang dapat saya gunakan sebagai acuan ?
terima kasih sebelumnya pak.

asca mayako mengatakan...

pak, saya sedang meneliti perilaku agresif anak usia Taman kanak - kanak. apa alat ukur yang tepat untuk melihat agresif anak?
terimakasih pak

Anonim mengatakan...

Selamat pagi Pak Didi, bagaimana kabar Anda? Saya Indah dari banyuwangi, istri Windoyo ketua DPC Pertuni Banyuwangi.Ada teman di DPRRI yang tertarik berdiskusi tentang ratifikasi konvensi ham penca dan hasil beberapa vivi misi Pertuni. Bisakah Anda kirim kepada saya hasil munas VII kemarin? saya berharap teman kami bisa menjadi kekuatan pendukung langkah kita mewujudkan harapan. terima kasih, salam.
Indah Catur Cahyaningtyas

pojok-bisnis mengatakan...

Bapak Tarsidi yth, saya mempunyai 2 anak, yang pertama perempuan (14 th) dan yang kedua laki-laki (5,5 th). Anak saya yang pertama tuna netra. Beberapa tahun lalu pernah saya sekolahkan di SLB Nusantara di Lebak Bulus. Tetapi karena terlalu jauh letak sekolah dg tempat tinggal saya akhirnya kami putuskan anak kami tidak meneruskan sekolahnya lagi. Sekarang kami hanya mendatangkan pengajar informal yang mengajari anak kami membaca braille dan menulis serta berhitung. Alhamdulillah ada kemajuan.
Sedangkan, anak kami yg kedua, pada saat kehamilan istri saya mencapai 7 bulan, dokter menganjurkan utk dilakukan diagnosis TORCH karena melihat anak kami yang pertama cacat. Hasil diagnosis menunjukkan positif dan dokter memberikan resep antibiotik. Setelah anak kami lahir, dokter melarang pemberian ASI. Sekarang anak kami tidak dapat membuka matanya apabila berada dalam lapangan terbuka atau ruang yang terang dengan cahaya. Tetapi tetap bisa berjalan dengan pelan-pelan dengan keterbatasan penglihatannya. Sebaliknya apabila bermain di daerah yang redup atau pada malam hari ia bisa berlari dan bermain seperti anak-anak normal lainnya. Pada waktu umur 4 bln anak kami diperiksa di RSM AINI Jakarta dan hasilnya +7. Bola matanya kecil dan tidak sesuai ukuran normal. Dokter menganjurkan utk memakai kacamata. Yang ingin kami tanyakan apakah penglihatannya akan membaik seiring dengan pertumbuhannya atau malah akan hilang? Anak kami jarang menggunakan kacamata yang telah diresepkan oleh dokter? Apakah kami harus membeli kacamata yang paling mahal agar penglihatannya lebih baik atau lensa yang biasa? Dokter pernah menyebutkan tentang lensa kacamata yang bernilai 5 jutaan Rupiah yang harus dipesan di luar negeri? Terimakasih atas jawabannya.

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

Untuk pojok-bisnis. Pertama saya ingin menyampaikan harapan dan doa semoga upaya pendidikan yang anda sekeluarga lakukan bagi anak pertama anda berhasil memajukannya. Sayang bahwa anak itu harus berhenti dari sekolah formal tetapi karena kondisi tertentu saya dapat memahami alasannya. Andaikata masyarakat kita sudah sepenuhnya menerima ideologi pendidikan inklusif, tentu saja anak itu tidak harus bersekolah yang terlalu jauh dari rumah.

Kalau boleh saya menyarankan, sebaiknya anak itu mendapat layanan pendidikan rehabilitasi demi kemandiriannya kelak. Sasana rehabilitasi tunanetra di Cawang mungkin bagus.
Tentang anak anda yang kedua, kedengarannya dia mengalami albinism, yang sangat sensitif terhadap cahaya. Tentang kaca mata yang mungkin cocok untuk dia, silakan anda berkomunikasi dengan Unit Low Vision Pertuni. Mereka menyediakan alat-alat bantu low vision dengan orientasi layanan, bukan bisnis. Silakan anda kunjungi website Pertuni (http://pertuni.idp-europe.org) dan klik Unit Low Vision.

Semoga bisa terbantu.

Anonim mengatakan...

saya mahasiswi pend. luar biasa. pada semester ini . akan ada penjurusan dan saya harus memilih salah satu dari 6 juruan yang ada. banyak yang menyarankan saya untuk mengambil jurusan A (tunanetra) karena mereka menganggap saya mempunyai keterampilan yang sesuai di jurusan tersebut . menurut bapak , bagaimana kriteria yang tepat untuk bisa menjadi sosok guru yang baik nantinya (jika saya memilih jurusan A? )dan apa saja yang jadi bahan pertimbangan saya dalam memilih jurusan ?

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

Untuk Susi. Mungkin penilaian teman-teman anda benar: anda mempunyai kecakapan yang bagus untuk memilih jurusan pendidikan anak tunanetra. Tetapi yang lebih penting adalah minat anda sendiri. Sesuaikan pemilihan jurusan dengan minat anda sendiri. Blog ini akan bagus untuk mendukung pilihan anda ke jurusan tunanetra.

Anonim mengatakan...

terima kasih atas jawabannya pak.
keterampilan yang dinilai oleh teman-teman saya adalah dalam hal menyanyi dan musik . saya harap pak didi tidak lelah membimbing saya jika ada yang ingin saya tanyakan . terima kasih

PCA mengatakan...

Pak Didi, saya tertarik untuk membaca buku-buku yang meninjau tentang anak tunanetra lebih jauh lagi,terutama yang berkaitan dengan persepsi tunanetra,seperti cara tunanetra mengenali lingkungan dan berorientasi. Di mana saya bisa mendapatkan buku-buku semacam itu? Saya membutuhkannya untuk penelitian terkait perancangan ruang kelas inklusi untuk SD.Terimakasih.

dwi mengatakan...

Kami memiliki anak penderita low vision, dengan mata kanan katarak bawaaan lahir dan juling serta kata dokter fadhil(nama anak) terinveksi tokso sejak dalam kandungan dan menyerang saraf mata sebelah kiri, tp virus tsb sudah (-) dan meninggalkan luka parut di saraf matanya. Fadhil hanya mampu melihat dengan jarak max 2 m , untuk melihat sesuatu dia selalu memicingkan matanya.
Kini usianya 7 thn dan kami sekolahkan di SDIT, di sekolah tsb kata gurunya dia dapat mengikuti pelajaran dgn baik hy saja bila di suruh membaca dia teramat malas, tapi bila di beri pertanyaan dan disuruh menulis dia masih mau.
Tingkahnya hiperaktiv tapi masih bisa diarahkan. Kami prihatin atas keterbatasannya melihat,apalagi kalo nonton TV(21inci)matanya harus mendekat dan selalu dilarang oleh kami.
Pertanyaan:
1. Bagaimana komentar pak Didi atas cerita kami di atas?
2. Adakah solusi terbaik untuk menyikapi anak seperti Fadhil anak kami?
Sebagai orangtua kami ingin yang terbaik untuk Fadhil. Mohon dibantu Pak untuk menenangkan hati kami, oh iya.... sudah setahun ini Fadhil diberi kacamata yg dibuatkan oleh petugas Pertuni dengan resep dokter. Dan kata mereka, mereka akan selalu memantau perkembangan penglihatan Fadhil secara kontinyu.
Terima kasih banyak atas saran Pak Didi

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

Yth. Pak Dwi (atau Ibu?). Pertama-tama, saya ingin mengatakan bahwa anda sudah mengambil langkah yang tepat dengan meminta advis Unit Low Vision Pertuni untuk membantu meningkatkan fungsi penglihatan Fadhil dan menyekolahkannya di SD umum.

Selanjutnya saya perlu menyampaikan beberapa komentar sebagai berikut.

1. Ketika anda mengatakan Fadhil "malas" membaca, mungkin itu disebabkan karena kebutuhan khususnya agar dapat membaca belum terakomodasi. Mungkin kaca mata yang digunakannya belum cukup membantu meningkatkan ketajaman penglihatannya. Anda dapat meminta advis lagi dari Unit Low Vision. Mungkin mereka dapat menyarankan alat bantu tambahan. Selain itu, Fadhil juga dapat dibantu dengan diberikan bahan bacaan yang sudah diperbesar hurufnya. Anda dapat melakukannya dengan memfotokopi buku-bukunya dengan ukuran huruf yang diperbesar. Pada umumnya ukuran yang nyaman bagi penyandang low vision adalah 18 point.

2. Saya tidak tahu apa yang anda maksud dengan Fadhil "hiperaktif". Mungkin dia hanya memang perlu aktif untuk menyalurkan energinya. Oleh karena itu, sebaiknya dia diberi kegiatan yang dapat membuatnya aktif terarah. Pilihkanlah barang mainan yang disenanginya.
3. Mungkin tidak baik selalu melarang Fadhil menonton TV. Saya pernah membaca hasil penelitian bahwa radiasi TV sebetulnya tidak seberbahaya yang dikira orang pada umumnya. Selama Fadhil masih merasa nyaman menonton dari jarak berapa pun, biarkanlah dia menikmatinya.

4. Saya sarankan anda berkonsultasi lagi dengan Unit Low Vision Pertuni untuk mendapatkan advis tentang layanan pendidikan yang tepat. Unit Low Vision tidak hanya memberikan advis yang terkait dengan fungsi penglihatan, tetapi juga tentang layanan pendidikan yang tepat bagi anak-anak low vision.

Semoga Fadhil dapat menjalani masa kanak-kanak yang menyenangkan dan masa dewasa yang sukses.

Pahlawan mengatakan...

Salam Kenal Pak,
saya salah satu dari orang tua pilihan yang mendapat kepercayaan untuk membesarkan anak dalam kondisi ROP. Menurut diagnosa dokter mata anak, mata anak saya belum dapat berfungsi. Saat ini usia anak tersebut 3 tahun.
Dengan adanya media ini, saya mohon bantuan untuk gambaran tentang pendidikan anak tersebut. Terutama pendidikan atau cara mengembangkan kemampuan agar bisa mengejar ketertinggalan dibandingkan dengan anak normal seusianya.
Atas perhatiannya terimakasih Pak.
Hormat saya, Pahlawan

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

Yang berbahagia Pak Wawang. Saya sangat merekomendasikan anda kontak dengan Ibu Primaningrum yang juga punya anak dengan RoP, Balqiz. cara beliau memperlakukan Balqiz sangat menggugah. Silakan anda kunjungi blognya: www.allaboutbalqiz.blogspot.com

Pahlawan mengatakan...

terimakasih pak atas informasi dan untuk kontak ke ibu Primaningrum

Anonim mengatakan...

pa didi saya sedang mengerjakan skripsi mengenai penyesuaian sosial anak tunarungu yg bersekolah di sekolah umum. saya ingin tau mengenai teori penyesuaian sosial khusus anak tunarungu. bisa saya cari dimana ya pa dan dari siapa teorinya?? terima kasih

Anonim mengatakan...

pa didi saya sedang mengerjakan skripsi mengenai penyesuaian sosial anak tunarungu yg bersekolah di sekolah umum. saya ingin tau mengenai teori penyesuaian sosial khusus anak tunarungu. bisa saya cari dimana ya pa dan dari siapa teorinya?? terima kasih

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

@Lia. Untuk artikel-artikel yang terkait dengan tunarungu, silakan kunjungi

www.permanariansomad.blogspot.com atau

www.permanarian16.blogspot.com

yy mengatakan...

Pak didi,anak saya 2thn mengalami Coloboma Iris,Retina dan Choroid, tlg bantu saya apakah ada cara pengobatannya,saya mau tau secara mendetil mengenai coloboma,tlg bantu saya pak didi. thx!

yy mengatakan...

Pak didi,anak saya 2 thn mengalami colobama Iris,retina dan Choroid,adakah cara pengobatannya?saya sangat ingin mengetahui secara mendetil mengenai coloboma dan cara mengobatinya,apakah bisa di operasi, tlg bantu saya pak didi. thx!

Anonim mengatakan...

Hidup Mahasiswa.
saya adalah mahasiswa PLB yang akan mengadakan penelitian dengan metode subjek tunggal yang judulnya mengatasi blindism pada anak tunanetra dengan hipnoterapi.

apakah bapak ada masukan atau referensi?trimz

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

@eka project. Silakan baca
Dampak Ketunanetraan terhadap Perkembangan Keterampilan Sosial Anak

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

@yy. Coloboma
Kondisi yang herediter ini sering ditandai dengan pupil berbentuk lubang kunci, tetapi kelainan bentuk dapat terjadi pula pada bagian-bagian mata lainnya. Berkurangnya ketajaman penglihatan dapat disertai dengan nystagmus, juling, dan fotofobia. Katarak juga sering menyertainya. Anak-anak yang mengidap coloboma juga dapat mengidap microphthalmia (mata kecil). Tergantung di mana letak retakannya, berkurangnya bidang pandang dapat terjadi pada mata bagian bawah.

Implikasi Pendidikan bagi Coloboma
Berbagai kondisi penglihatannya berimplikasi pada:
- pengaturan tempat duduk
- pengaturan pencahayaan di dalam dan di luar ruangan untuk menghindari sinar matahari langsung atau cahaya silau.

imusga mengatakan...

assalamualaikum Pak didi...saya mau bertanya tentang bagaimana membuat perencanaan untuk mengembangkan moral dan kepribadian anak tunanetra di kelas dasar, sehubungan saya ada tugas dari dosen....
mohoh maaf saya telah mengganggu bapak....
saya tunggu jawabannya....

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

@imusga. Di blog ini ada banyak artikel tentang ketunanetraan dan ada beberapa artikel yang menyangkut kepribadian. silakan anda browsing lagi atau anda baca halaman daftar isinya.

Joni Yulianto mengatakan...

Salam, Pak Didi, boleh saya link blog bapak di blog saya? Terimakasih

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

@Pak Yulianto. By all means, silakan.

Anonim mengatakan...

pa didi, saya saat ini saya sedang inginkonseling tentang kehidupan pribadi saya. mohon kiranya bapak bisa memrekomendasikan konselor buat saya? terimaksih

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

@Paskalani. Saya sarankan agar anda konsul ke konselor terdekat yang anda ketahui menguasai bidang yang anda pikir anda mendapat kesulitan.

DesSilaen mengatakan...

Selamat Jumpa Pak Didi, meskipun lewat internet.Pa kumaha damang? saya suster Desi, alumni mahasiswa bapak. pak, sekarang saya sudah di Medan dan mengajar di SLB-A Karya Murni. kami memiliki printer Braillo Norway model 400 series II, dengan program MBC (Mibee Braille Converter). tapi kami kesulitan menggunakan printer tersebut untuk ngeprint timbal balik. apakah bapak bisa membantu kami dalam kesulitan ini? trimakasih Pak Didi? salam. suster Desi.

Bicara Bahasa mengatakan...

salam kenal, nama saya Arief salah satu dosen universitas swasta di Semarang. Kebetulan saya juga menjadi salah satu pengajar pak Suryandaru, penyandang tuna netra di Semarang. Melalui beliau, saya mendapatkan inspirasi untuk mengambil S3 dengan topik disertasi Penerjemahan Untuk Tuna Netra Dengan Menggunakan MELDICT. Jika bapak Didi tidak keberatan, saya mohon bantuan untuk referensi maupun saran-saran yang kiranya akan membantu pengembangan MELDICT dan pra-proposal disertasi saya. Maturnuwun pak

Bicara Bahasa mengatakan...

salam kenal, nama saya Arief salah satu dosen universitas swasta di Semarang. Kebetulan saya juga menjadi salah satu pengajar pak Suryandaru, penyandang tuna netra di Semarang. Melalui beliau, saya mendapatkan inspirasi untuk mengambil S3 dengan topik disertasi Penerjemahan Untuk Tuna Netra Dengan Menggunakan MELDICT. Jika bapak Didi tidak keberatan, saya mohon bantuan untuk referensi maupun saran-saran yang kiranya akan membantu pengembangan MELDICT dan pra-proposal disertasi saya. Maturnuwun pak

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

@Suster Desi. Tentang printer Braillo. Apa software yang digunakan untuk konversi Braille? MBC? CX? Duxbury? Apakah sebelumnya bisa bulak-balik?

DesSilaen mengatakan...

Trimakasih Pak Didi. kami pakai program MBC. Tapi pak kami sudah bisa mengoperasikannya, ternyata hardwarenya yg longgar. Pak, mau tanya lagi, kami ingin mengganti komputer yang berhubungan dengan printer braillo Norway 400 series II tersebut, tapi ngga bisa karena CD program untuk menginstal printer tersebut tidak ada. kira-kira dimana dan bagaimana ya pak, bisa mendapat CD program tersebut?.
trimakasih pak.
Salam, Suster Desi.

Dr.IB.Suryahadi Sp.B mengatakan...

Mau tanya info nya untuk membeli alat2 bantu baca low vision, contoh nya Magnifier yg bisa terhubung dengan TV atau CCTV portable atau yg mobile.Terima Ksih

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

Silakan anda kunjungi:
http://pertuni.idp-europe.org/UnitLowVision.php

Anonim mengatakan...

kepada yth bpk.Didi
saya mencari artike-artikel dan sekolah untuk anak yang berkebutuhan khusus,dengan kecerdasan pada level borderline, apa bpk bisa bantu?.saya tinggal di bogor.thanks.

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

@Hadi. Coba anda kunjungi:
www.z-alimin.blogspot.com

Unknown mengatakan...

salam pak didi

betulkah bulan nov. pendidikan khas upi akan mengadakan seminar yg joint dg ukm malaysia?...saya mau tahu banyak infonya. tepatnya saya kira 20 november gitu deh pak

thank u pak..

salam
vera

Unknown mengatakan...

salam pak didi

betulkah bulan nov. pendidikan khas upi akan mengadakan seminar yg joint dg ukm malaysia?...saya mau tahu banyak infonya. tepatnya saya kira 20 november gitu deh pak

thank u pak..

salam
vera

Unknown mengatakan...

salam pak didi

betulkah bulan nov. pendidikan khas upi akan mengadakan seminar yg joint dg ukm malaysia?...saya mau tahu banyak infonya. tepatnya saya kira 20 november gitu deh pak

thank u pak..

salam
vera

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

@Bu Vera. Betul, pada bulan November tahun ini akan ada joint seminar UKM dan UPI diselenggarakan di kampus UPI di Bandung. Tapi saya belum dapat memberikan info lebih banyak. Panitianya masih sedang disiapkan.

Bicara Bahasa mengatakan...

pak Didi, apakah ada buku-buku tentang tuna netra yang telah anda terjemahkan sejauh ini? saya rasa buku-buku mengenai masalah ini jarang kita jumpai. Jika bapak telah menerjemahkan beberapa buku asing, bolehkah saya mengetahui judul-judul buku tersebut? terimakasih

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

@Pak Arief. Salah satu buku terjemahan saya adalah • Visual Impairment: Access to Education. 8 bab pertama dari buku itu sudah dimuat di blog ini. silakan lihat daftar isi.

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

@Pak Sigit Hari. Please visit
http://pertuni.idp-europe.org and click "unit low vision".

Rully Anjar mengatakan...

Pak Didi, saya Rully, saya mau tanya kira-kira olahraga apa yang cocok untuk tunanetra?
Dan bagaimana mengadaptasi peraturan dalam olahraga itu agar sesuai untuk anak tunanetra?
sebelumnya terimakasih pak Didi.

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

@Rully. Silakan anda bkunjungi www.dj-rahardja.blogspot.com

Anonim mengatakan...

bapak, saya arianoor. saya ada tugas tentang assessment untuk tunanetra.
saya minta tolong kepada bapak untuk menerbitkan artikel, atau saya harus membaca websaid mana agar keperluan saya bisa terpenuhi.
trimakasih

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

@arianoor. Silakan anda baca artikel Prosedur Asesmen Kemampuan Anak Tunanetra dari link berikut ini:
http://d-tarsidi.blogspot.com/2008/06/prosedur-asesmen-penglihatan.html

dyah fitria padmasari mengatakan...

maaf bapak mohon bantuannya, bagaimana mensosialisasikan dan menumbuhkan semangat untuk peduli pada ABK, terutama dalam implementasi inklusi dengan dukungan sepenuh hati dari dinas pendidikan bapak didi? karena inklusi untuk ABK di Magetan tidak berjalan. terimakasih

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

@Ibu dyah fitria padmasari. Di blog ini ada banyak artikel tentang pendidikan inklusif (lihat daftar isi). Anda dapat mengunakan artikel-artikel itu sebagai bahan sosialisasi.

Anonim mengatakan...

pak didi , saya ingin bertanya tentang blindsim . sebenarnya apa yang menyebabkan blindsim muncul? dan adakah cara untuk mengatasinya?

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

@Suci. Silakan anda baca Dampak Ketunanetraan terhadap Perkembangan Keterampilan Sosial Anak
http://d-tarsidi.blogspot.com/2008/01/dampak-ketunanetraan-terhadap.html

Unknown mengatakan...

saya memiliki satu siswa yang memiliki keterbatasan penglihatan. dia tidak bisa melihat tulisan di papan tulis. kalau membaca buku harus sangat dekat dengan matanya.bagaimana ya mengatasinya?karena dia selalu tertinggal dari teman2nya yg lain.kirim email komentar ke rara_nayla_imoed@yahoo.com

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

@Bu Siti. Silakan anda kunjungi halaman Unit Low Vision website Pertuni:
http://pertuni.idp-europe.org

eno mengatakan...

Pak Didi, saya mahasiswa Universitas Indonesia jurusan Komunikasi Massa yang sedang membuat skripsi mengenai Manfaat Facebook Bagi Pembentukan Hubungan Personal Penyandang Tuna Rungu. Saya membutuhkan narasumber ahli mengenai tuna rungu yang aktif dalam dunia maya sebagai secondary data dan juga untuk mendapatkan gambaran mengenai proses pembentukan hubungan personal tuna rungu. Apakah pak Didi Bersedia untuk membantu saya? Jika ia, saya akan mengirimkan surat permohonan melalui email dan copy scan surat izin dari Universitas Indonesia. Terimakasih pak Didi.

“Kirim email komentar tindak lanjut ke lestari.retno@gmail.com

meilina juwita andini mengatakan...

pak Didi, saya Meilina sedang mengajukan skripsi tentang penerapan program meldict, saya bs cari referensinya dmn ya pak?
terima kasih....

meilina juwita andini mengatakan...

nb.
pak Didi, apakah ada media untuk tunanetra yang menggunakan sistem animasi audio verbal ya pak?
dan kalau ada, apakah media tersebut efektif buat PBM anak tunantra?
terimakasih

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

@Meilina. Untuk Meldict, coba hubungi Yayasan Mitra Netra. Tentang program animasi audio, itu sudah diterapkan pada games for the blind.

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

@Ibu elik supriyati. Sangat tidak benar mengatakan bahwa salah satu karakteristik tunanetra adalah suka menyakiti diri sendiri. Tentang orang yang dapat dijadikan sebagai saksi ahli, yang paling dekat ke Balikpapan yang saya tahu ada di Palangkaraya, Pak Utomo atau Pak Imam.

Ingrid Christanti mengatakan...

Pak Didi,Pada saat ini, saya sedang menyusun Tugas Akhir dalam rangka memperoleh Gelar Strata 1 (S1) bidang arsitektur, dan memiliki ketertarikan untuk mengambil fenomena Tugas Akhir saya berhubungan dengan Differently-Abled People dan perkotaan, lebih spesifik lagi tentang peran dan keberadaan kaum Tuna Netra di perkotaan.
Bisakah bapak memberikan informasi dan data-data terkain yang bisa saya gunakan sebagai landasan? Terima Kasih.

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

@Ingrid: Di blog ini ada satu artikel tentang aksesibilitas lingkungan fisik bagi penyandang disabilitas. Silakan klik Daftar Isi. Saya sarankan anda menggunakan istilah "disabilitas" instead of "differently abled".

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

@Bu Dewi Lavanti: Jika anda tinggal di Bandung, silakan berkonsultasi ke Pusat Pengembangan Anak (Lab PLB) jurusan PLB UPI. Anda juga dapat berkonsultasi kepada DR. Zaenal Alimin yang ahli mengenai anak-anak dengan kondisi seperti anak Ibu. Silakan kunjungi blognya: www.z-alimin.blogspot.com

Ingrid Christanti mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Ingrid Christanti mengatakan...

wah pak didi terima kasih atas sarannya dalam penggunaan istilah itu (differently-abled dan disabilitas)

saya sudah membaca artikel-artikel pak didi dan artikel-artikel itu sangat membantu saya dalam penyusunan landasan teori sehingga proyek saya lolos ke tahap pembuatan suatu produk desain.

untuk lebih lanjutnya, bolehkah saya kontak bapak via email untuk mengajukan beberapa pertanyaan yang sekiranya saya perlu tahu dalam penyusunan proyek saya ini? saya akan sangat berterima kasih jika bapak dapat membagi ilmu dan pengalaman tentang kaum netra bagi saya agar proyek ini dapat dibuat dengan kondisi yang sesuai untuk kaum tuna netra.

terima kasih banyak atas tanggapannya, pak didi

salam hormat, ingrid

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

@Mbak Ingrid. Silakan.

Ingrid Christanti mengatakan...

yth Pak Didi

email lebih lanjut sudah saya kirimkan ke d.tarsidi@gmail.com ,,,sekiranya bapak dapat menanggapinya dan terima kasih banyak atas kesediaannya.

Salam,
Ingrid

surathu mengatakan...

Pak Didi yth,
Akibat stroke 2 tahun lalu kakak saya menderita cortical blindness. sampai saat ini kami masih mengupayakan pemulihan penglihatannya. dalam masa ini dia sangat tidak bersemangat dan kurang berkeinginan melakukan hal-hal yang sebenarnya dia mampu lakukan. saya ingin sekali membawa kakak saya untuk konseling tapi sampai saat ini saya belum mendapatkan tempat maupun informasi untuk konseling yang khusus menangani kasus seperti ini. mohon infonya Pak. Terima kasih.

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

@Mas Surathu. Kalau kakak anda tinggal di Jakarta, silakan datang ke Yayasan Mitra Netra. Mereka punya layanan konseling yang dibutuhkan olehnya.

Yayasan Mitra Netra. Jalan Gunung Balong II No. 58, Lebak Bulus, Jakarta Selatan 12440. Tlp. (021) 7692264 7651386. Fax: 021-7655264. Web: mitranetra.or.id

Dimas Sulistiyanto mengatakan...

Literatur apa yang Anda gunakan dalam menulis artikel "Tahap Perkembangan Karir" http://d-tarsidi.blogspot.com/2007/10/teori-perkembangan-karir.html. Saya sangat menginginkan dapat memiliki literatur tersebut. Mohon balasan secepatnya. Terima Kasih

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

@Dimas Sulistiyanto.

I wish anda dapat membaca lebih teliti. Silakan anda baca lagi keterangan di bawah judul: diintisarikan dari ....

Woody Junior mengatakan...

Permisi Pak Didi, Saya ichsan, mahasiswa perencanaan wilayah dan kota di salah satu perguruan tinggi negeri. saya memiliki keterbatasan fisik dan sangat tertarik mengajukan penelitian tugas akhir mengenai accessble city for people with disability. mohon bantuan nya mengenai buku yang mungkin bisa saya jadikan referensi. saya bingung mencari buku tentang disability dan accesibility di kota saya kuliah.. mohon bantuannya pak. Terima kasih

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

@Pak Nirwan Rinanto: Kedengarannya putra Bapak seperti mengidap katarak. Katarak adalah kekeruhan pada cairan di dalam lensa. Pada umumnya kelainan ini dapat dikoreksi dengan mudah dan penglihatan akan kembali normal. Silakan anda berkonsultasi dengan dokter mata.

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

@Bapak Mochamad Bashori:



Q: anak saya yang nomer 3, laki-laki umur 7 tahun data medis umur 4 bulan ada coloboma (seperti sumbing) di retina mata, shg penglihatan berkurang. sekarang dia kelas 1 di SD umum, untuk membaca dan menulis di buku dibutuhkan tidak terlalu masalah, tetapi untuk membaca tulisan di papan tulis dibutuhkan jarak yang dekat, sekitar 2 meter dan harus lurus, terlebih untuk mata sebelah kanan kurang dari 0,5 meter. aapakah ada solusi alat bantu? bagaimana cara, kemana dan solusinya? terima kasih



A: Tampaknya anak Bapak perlu telescopic magnifier. Silakan konsultasi ke Unit Layanan Low Vision Pertuni di Jakarta atau Yogyakarta. Untuk info alamatnya silakan kunjungi:



http://pertuni.idp-europe.org

deni denis mengatakan...

pak didi, terimakasih telah memberikan banyak informasi..

ada yang ingin saya tanyakan. jadi saya sedang tugas akhir terkait perkembangan sosial tunanetra. mohon bapak bisa memberikan informasi,referensi atau link jurnal tentang hal tersebut.

kalau untuk tunanetra yang bukan dari lahir itu ada istilahnya apa ya pak??
trimakasih

_ deni

Ika Uni Pratiwi mengatakan...

pak.. saya mau tanya tentang pelaksanaan sekolah inklusi..

bagaimana ya dengan anak berkebutuhan khusus yang IQnya borderline??? bagaimana seharusnya sikap dari guru dan sekolah???

Unknown mengatakan...

Pak Didi, saya sedang menulis tesis ttg penerjemah tuna netra. Apakah pak Didi mempunyai artikel-artikel atau link ttg hasil terjemahan dari Indonesia-Inggris yang diterjemahkan oleh seorang penerjemah tuna netra?

Terima kasih.

Unknown mengatakan...

assalamu alaikum pak Didi.saya mau minta tolong pada bapak sekiranya nanti klo saya lulus di UPI saya bisa dibantu untuk pengurusan beasiswa BU BPP-DN di dikti .saya daftar di UPI tahun ini ambil jurusan PKKh. saya berasal dari Makassar.motivasi saya lanjut karena ingin memperdalam ilmu tentang ALB dan ingin membanggakan orangtua serta membuktikan kepada orang bahwa saya juga bisa walaupun ayah saya sudah lama meninggal dan keadaan ekonomi keluarga sederhana.maka dari itu saya meminta bapk bisa membantu saya. atas bantuan dan perhatiannya saya ucapkan banyak terima kasih.semoga bapak bisa bantu saya...amin
wassalam
Budi Susanto

Unknown mengatakan...

assalamu alaikum pak semoga bapak bisa membantu saya bisa masuk jadi Mahasiswa di UPiI dan bisa mendapatkan Beasiswa BPP-DN karena UPI salah satu Universitas yang saya impikan

Anonim mengatakan...

Pak Didi yang terhormat,

Walaupun sepertinya blog ini sdh lama tidak ter-update, tidak ada salahnya saya menyampaikan pertanyaan di sini karena sangat sulit menemukan artikel tentang penyakit/kelainan yang didiagnosiskan kepada anak saya baru-baru ini.

Anak saya baru berumur 4,5 bulan, dan berdasarkan beberapa sumber yang saya tahu, seharusnya anak seusia tersebut sudah memberikan respon secara visual. Karena merasa bahwa hal tersebut belum diberikan oleh anak saya secara optimal, saya berkonsultasi dengan dokter anak yang kemudian dirujuk untuk ke dokter spesialis mata. Dokter tersebut kemudian melakukan pemeriksaan sederhana menggunakan alat yang mengeluarkan cahaya seperti lampu senter. Dari pemeriksaan tersebut, dokter tersebut memberikan diagnosis bahwa anak saya mengalami optic atrophy dan dirujuk ke rumah sakit spesialis mata (eye center). Diagnosis tersebut diberikan karena tidak ada respon dari pupil mata anak saya terhadap cahaya yang diberikan. Pertanyaan saya adalah:
1. Apakah optic atrophy itu? Apakah gejalanya? Apakah bisa disembuhkan/direhabilitasi?
2. Apakah terdapat kemungkinan diagnosis tersebut salah mengingat bahwa anak saya masih berumur 4,5 bulan (saya terus berdoa dan berharap bahwa seiring dengan bertambahnya umur, anak saya akan dapat memberikan reaksi visual yang normal)

Terima kasih atas bantuannya.

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

@Pak King:

Optic Atrophy (OA)

"Optic atrophy" adalah istilah generik yang menggambarkan degenerasi (memburuknya) syaraf optik. Syaraf optik atas mengirimkan pesan dari retina ke visual cortex di otak. OA dapat mengganggu berbagai proses penglihatan, termasuk ketajaman penglihatan, bidang pandang dan kepekaan terhadap kekontrasan, dan dapat mengakibatkan hilangnya penglihatan pada bidang sentral ataupun periferal dan menimbulkan kesulitan dalam beradaptasi dengan keadaan cahaya yang kurang terang. OA dapat berdiri sendiri atau dapat juga terkait dengan kondisi-kondisi lain, dan dapat bersifat progresif ataupun non-progresif.




Implikasi Pendidikan bagi Optic Atrophy

Implikasi berikut ini hampir sama dengan bagi degenerasi macula.
- Kondisi pencahayaan yang tidak menyilaukan, mungkin dengan satu sumber cahaya (seperti lampu baca) adalah penting.
- Biasanya diresepkan alat-alat bantu low vision, misalnya kaca pembesar genggam yang berlampu atau CCTV, atau, dalam kasus-kasus tertentu, lensa teleskopik yang dipasang pada kaca mata.

Sumber: Mason, H. & McCall, S. (eds.). (1999).
Visual Impairment: Access to Education for Children and Young People. London: David Fulton Publisher

Unknown mengatakan...

ada beberapa pertanyaan yang saya mau tanyakan kepada bapak didi.
Saya mau menyekolahkan anak saya di Boyolali, Jawa tengah.
Saya mempunyai anak kembar Aura dan Sadewa.
Aura mata kiri tidak bisa melihat dan mata kanan jarak pandang hanya beberapa cm saja.
Sadewa kedua matanya tidak bisa melihat.
Adakah sekolah untuk anak saya di boyolali?apa yang bisa pahk didi sarankan untuk pendidikan anak saya.
terima kasih.

Unknown mengatakan...

ada beberapa pertanyaan yang saya mau tanyakan kepada bapak didi.
Saya mau menyekolahkan anak saya di Boyolali, Jawa tengah.
Saya mempunyai anak kembar Aura dan Sadewa.
Aura mata kiri tidak bisa melihat dan mata kanan jarak pandang hanya beberapa cm saja.
Sadewa kedua matanya tidak bisa melihat.
Adakah sekolah untuk anak saya di boyolali?apa yang bisa pahk didi sarankan untuk pendidikan anak saya.
terima kasih.

DR. Didi Tarsidi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan...

@Ibu Dewi Anggraeni.

Silakan Ibu berkomunikasi dengan Ibu Primaningrum. Berikut ini adalah tawaran bantuan dari beliau.

saya, atas nama Yayasan Balita Tunanetra, ingin mencoba sharing kepada ibu dewi. dan mengenai sekolah tujuan yang dicari, saya ada beberapa data namun sebelum memberikannya kami sedang cek dan ricek mengenai keakuratan data sekolah tersebut. terimakasih.


wassalam,

primaningrum a. rustam

http://www.primaningrum-arinarresmi.blogspot.com

http://www.allaboutbalqiz.blogspot.com

Unknown mengatakan...

Dear Pak Didi,

Saya mahasiswa tingkat akhir jurusan desain produk yang mengangkat tema tunanetra sebagai tugas akhir. Apakah Bapak bersedia untuk berdiskusi dan menjadi narasumber untuk proyek ini, terutama mengenai aspek sosio-kultural penderita tunanetra di Indonesia.Jika ya, dimanakah Pak Didi dapat dihubungi?

Terimakasih,

Ezra

sagiyo Arsadiwirya mengatakan...

Pak Didi, kami DPC Pertuni Kabupaten BAnjarnegara JAteng akan memperingati Hari Difabililtas Internasional. Salah satu acara adalah seminar ttg Perluasan Akses Ekonomi dan Infrastruktur Bagi Kaum Difabel. Apakah ada nara sumber yang Bapak rujuk buat kami?

Unknown mengatakan...

salam kenal pak Didi!
saya Ema, menurut bapak anak ABK akan lebih tertangani di sekolah inklusi, sebab kita tahu umur anak terus berlanjut?

Unknown mengatakan...

salam kenal pak didi!
apa menurut bapak anak ABK akan lebih tertngani di sekolah INKLUSI?

Anonim mengatakan...

Assalamualaikum pak Didi.
saya telah menyelesaikan tesis tentang sekolah inklusi dan berniat mengirimkan artikel penelitian ke jurusan PLB di UPI.

Apakah Bapak bisa memberikan petunjuk, tentang website, no telepon, atau alamat email yang bisa saya hubungi.

terima kasih atas perhatiannya
Wassalamalaikum wr. wb

Unknown mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Unknown mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
kost putri wisma samara purwokerto mengatakan...

hemmm menarik sekali penjabarannya Pak Didi, kebetulan sekali saya juga tunanetra pada usia dewasa dan apa yang dijabarkan memang hampir benar adanya. Oh ya kalau ada waktu bisa kunjungi Blog saya juga dan baca tentang tutorial saya tentang internet tunanetra, smoga bisa membantu murid atau mahasiswa Bapak yang masih awam tentang internet tunanetra, peace
http://www.infopurwokerto.info/cara-tunanetra-menggunakan-internet/

Unknown mengatakan...

assalamualaikum bapak Didi tarsidi,maaf sebelumnya saya sedang menulis thesis yang berjudul pola asuh orangtua difabel terhadap kesuksesan anak, apakah bapak bersedia menceritakan pengalaman bapak selama mengasuh anak bapak?. terimakasih

Unknown mengatakan...

assalamualaikum bapak Didi tarsidi,maaf sebelumnya saya sedang menulis thesis yang berjudul pola asuh orangtua difabel terhadap kesuksesan anak, apakah bapak bersedia menceritakan pengalaman bapak selama mengasuh anak bapak?. terimakasih

Unknown mengatakan...

Mohon maaf sebelumnya Bapak, saya adalah mahasiswa dengan hambatan penglihatan. seandainya boleh bertanya?
1. Mengapa istilah pendidikan luar biasa itu diganti dengan nama pendidikan khusus? Menurut pemikiran Saya yang belum luas nama itu akan menimbulkan stigma bahwa difabel itu harus diperlakukan khusus.
2. bagaimana caranya mengkondisikan ramah difabel jika saya berada di lingkungan yang awam baik lingkungan mahasiswa, masyarakat yang intelek atau pun masyarakat yang belum faham difabel? supaya aksesibel dalam keseharian yang mengalami hambatan penglihatan.
3.
smilie
Mohon maaf bapak Mohon izin. seandainya saya Ingin shared artikel bapak di akun Saya apakah boleh?
itu kiranya Bapak terima kasih atas kesempatan ini.
smilie

rifai mengatakan...

Assalamualaikum. Pak, perkenalkan saya Rifai salah satu mahasiswa divabel netra di Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negri Jakarta jurusan PLS.
Saya merasa gembira bisa menemukan salah satu akun bapak ini. Karena terus terang saja saat saya mengikuti seminar yang diadakan oleh PLB ketika itu dengan mengusung tema meningkatkan pelayanan pendidikan divabel di Universitas Negri Jakarta disitulah untuk pertama kalinya saya mengenal bapak sebagai sosok yang inspiratif, sehingga saya tertarik untuk mencari informasi tentang bapak dari artikel yang dimuat dibeberapa postingan.
Namun sayangnya informasi yang saya dapatkan kurang lengkap karena beberapa artikel tidak menuliskan secara utuh informasi tentang bapak.
Untuk itulah saya mencoba memberanikan diri langsung menghubungi bapak dengan maksud ingin memperoleh informasi secara utuh tentang bapak dan jika bapak berkenan, saya ingin sekali membaca biografi bapak secara utuh sebagai sumber inspirasi untuk saya. Sebab saya hampir pasti banyak informasi menarik yang bisa saya peroleh dari mulai perjalanan bapak sekolah SD hingga memperoleh gelar DR seperti sekarang ini.

Hana Okta mengatakan...

siang pak, saya mau bertanya apakah di Bandung termasuk salah satu daerah terbanyak untuk penyandang low vision ? jika iya, apakah saya dapat mengetahui berapa jumlah penyandang low vision di Bandung ? pertanyaan ini menyangkut skripsi yang sedang saya susun.Terimakasih sebelumnya pak.

Unknown mengatakan...

DENGAN HORMAT PAK DR DIDI TARSIDI
Saya sedang membuat tesis dengan titikberat bahasan Tuna netra. Untuk membuat angket saya ingin benar benar dalam bentuk huruf Braille timbul itu. Dimana ya ikut nge print
di KOTA CIAMIS . Atau di KOTA BANDUNG.
Terima kasih Pak DR Didi Tarsidi

Hormat saya,

Basuki
ludeunghirup@gmail.com

arjuna mengatakan...

dear pak didi, saya seorang tenaga pengetik di perpustakaan braiile milik sebuah yayasan. saya membutuhkan software openbook bisa bapak bantu bagaimana cara memperolehnya secara mudah?

Unknown mengatakan...

assalamu'alaikum pak. saya ingin mendownload file tentang sistem tulisan braille untuk notasi musik tapi linknya tidak bisa diakses. kalau boleh saya ingin meminta link alternatifnya pak. terimakasih. sukses untuk bapak.

Unknown mengatakan...

Selamat siang pak Didi, Perkenalkan nama saya Yahya Hendra Wibowo. Saya baru saja menyelesaikan pendidikan sarjana saya di STBA Yapari ABA Bandung. Saya tertarik dan tergugah untuk mengetahui bagaimana cara Tuna Netra mempelajari Phonetic Alphabet. Sebagai wujud pengabdian saya pada ilmu pengetahuan, saya ingin melakukan penelitian tentang metode yang tepat untuk mengajarkan Phonetic Alphabet pada Tuna Netra (jika penelitian serupa telah dilakukan, maka saya tertarik untuk mempelajarinya). Saya sudah membaca beberapa artikel tentang Phonetic Alphabet Braille, tetapi akan lebih baik jika saya mempelajarinya secara langsung. Jika Pak Didi bersedia untuk bertemu, saya akan sangat senang karena banyak hal yang mungkin perlu saya tanyakan. Terimakasih atas waktunya, ini nomor Whatsapp saya 081931332346. Atau jika berkenan, saya ingin mengkontak bapak secara pribadi.

Dr. H. M. Hasan Gunawan, MH,.MM mengatakan...

Assalamuallaikum....Om Didi Tarsidi Mohon info Kontaknya....
saya Dr. dr. H. Muhammad Hasan Gunawan, Sp.A, SE, MM
putranya Bapak Djanuar Guru SLBN latihan SGPLB Bandung temannya Bapak Didi Tarsidi

Fatma Amelia mengatakan...

Assalamualaikum.. Pak Didi, mohon bantuannya. Menurut bapak, bahan ajar yang ramah disabilitas secara keseluruhan bagaimana ya pak?

«Terlama ‹Lebih tua   1 – 200 dari 205   Lebih baru› Terbaru»